« Bagian kedua

Wiratanu III bernama asli Raden Astramanggala. Dia putra sulung dari 14 anak Aria Wiratanu II. Sementara Aria Wiratanu II anak sulung dari 11 anak Aria Wiratanu I. Sebagian menyebut Astramanggala merupakan bupati kedua. Tapi sebagian yang lain menyebut bupati ketiga.

Jadi jika membaca sejumlah penelitian, bisa jadi sejarawan berbeda-beda saat memberi predikat Aria Wiratanu III: bisa bupati kedua, bupati ketiga, atau bahkan ada yang menulis bupati Cianjur pertama. Jika dihitung dari perjanjian kerajaan Mataram yang memberikan wilayah antara Cisadane-Citarum kepada VOC pada 25 Februari 1677, maka pada tahun itu Cianjur berada di bawah kekuasaan Aria Wiratanu II. Ia bisa disebut bupati pertama di bawah VOC.

Wiratanu atau Wira Tanu berarti panglima atau senapati. Aria merupakan gelar kebangsawanan yang diberikan kasepuhan Cirebon. Gelar dan emblem “senapati” itu didapat Aria Wiratanu I atau kakek Astramanggala. Saat itu Cianjur dibawah kasepuhan Cirebon, sementara Cirebon berada dalam kekuasaan kerajaan Mataram–bukan kerajaan Padjajaran.

Tak ada catatan pada umur berapa Aria Wiratanu III menjadi bupati. Tapi ia menjadi bupati pada 1707-1926. Tahun yang terakhir adalah saat ia dibunuh rakyatnya sendiri. Aria Wiratanu berkuasa di masa empat gubernur jenderal VOC: J van Hoorn (1704-1709), Abraham van Riebeeck (1709-1713), Christoffel van Swoll (1713-1718) dan Henricus Zwaardecroon (1718-1725).

Sebagai “pelayan” empat gubernur jenderal, Astramanggala mempesona VOC. Sejak itu hampir semua keinginan menambah wilayah kekuasaannya, juga memindahkan ibu kota Cianjur, dipenuhi VOC. “Pada era pemerintahan dia, ibu kota Kabupaten Cianjur dipindahkan dari Pamoyanan ke Kampung Cianjur,” tulis Reiza D. Dienaputra dalam “Cianjur: Antara Priangan dan Buitenzorg”.

Wilayah-wilayah baru itu antara lain Distrik Jampang dan Distrik Sagara Kidul. Berikutnya adalah sebagian wilayah Karawang dan Bandung. VOC juga membiarkan sang bupati membangun gapura di perbatasan-perbatasan, yang belakangan dikeluhkan pangeran Aria Cirebon yang mengawasi wilayah Priangan, “itu bukan gapura, tapi benteng.”

Hal yang tak dipenuhi VOC–yang begitu mengandalkan para menak dan sentana untuk mengumpulkan kopi — adalah saat sang bupati meminta gelar Pangeran Aria Adipati Amangkurat di Datar. Permintaan yang ingin menyamai Amangkurat, Sultan Mataram, itu dinilai membahayakan.

Di bawah Wiratanu III, Cianjur berhasil menjual lebih dari sejuta pikul kopi tiap tahun. Puncaknya pada 1724 saat mereka menjual lebih dari 1,2 juta pikul kopi. “Pada waktu meninggal, dia masih berhak mendapat 26 ribu gulden berikut bunga atas jumlah itu,” tulis Jan Breman dalam “Keuntungan Kolonial dalam Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870”, seperti dikutip majalah Historia.id.

Amarah petani kopi bermula ketika secara semena-mena bupati memotong 5 ringgit gulden dari tiap pikul kopi yang disetor petani. Sementara bupati menawarkan harga tetap ke VOC sebesar 21 gulden, lalu turun jadi 17,5 gulden per pikul. Sementara ia membeli dari petani 12,5 gulden/pikul.

Para petani pada mulanya masih bisa menghindar dari harga yang ditetapkan bupati dengan cara menyimpan sebagian panen mereka dan lebih memilih menjual ke tengkulak Cina yang memberi harga lebih bagus. Para tengkulak ini juga berbisnis dengan VOC. Tapi aktivitas diam-diam itu diketahui bupati. Tak lama kemudian keluar larangan VOC pada tengkulak Cina untuk memasuki wilayah Priangan. Petani hanya diperbolehkan menjual pada pengepul lokal yang ditugasi bupati.

Puncak kemarahan terjadi ketika VOC secara semena-mena menurunkan harga dari 17,5 gulden per pikul menjadi 15 gulden per pikul dan terakhir 5 gulden per pikul. “VOC saat itu dililit masalah keuangan. Penghematan dengan menekan massa di bawah dilakukan, dan itu memicu perlawanan petani,” ujar Breman.

Wiratanu yang berada di tengah perseteruan petani vs VOC, pun menjadi sasaran amuk. Seorang pemuda yang menyamar sebagai tukang sayur masuk ke pendopo dan mendapati sang bupati hanya berdua. Lelaki itu kemudian menusuk perut Wiratanu dengan condre.

Sang pemberontak kemudian dikejar pengawal dan dibunuh dengan cara dicincang. Potongan tubuhnya ditebar hingga ke alun-alun. Wiratanu yang mendapat beberapa tusukan meninggal pada malam berdarah pada 1726 itu.

Tapi versi lain yang telah menjadi legenda menyebut bahwa tragedi bermula dari sang bupati yang memaksa mengawini seorang perempuan Sukabumi. Saat perempuan itu diserahkan pada Wiratanu, kekasih sang perempuan diam-diam menyamar sebagai pengawal. Saat itulah ia menghunus condrenya.

Legenda “Dalem Dicondre” itu diceritakan turun temurun. Pujangga Sunda Yus Rusyana yang menulis naskah drama yang bersumber dari cerita rakyat itu menyebut nama sang perempuan: Apun Gencay. Apun diminta menjadi istri ketika Wiratanu berburu ke daerah Cikembar, Sukabumi. Orangtua Apun tak bisa menolak permintaan sang dalem yang sudah punya beberapa istri karena ia rakyat kecil. Namun tidak bagi kekasih Apun .

Saat Apun datang ke pendopo pada suatu senja, ia ditemani sang pemuda. Apun mengaku pada bupati bahwa pemuda itu adalah saudaranya. Saat itulah sang kekasih menghunus condrenya.

Dalam legenda itu diceritakan sang pemuda dikejar hingga ke alun-alun. Ki Purwa yang menjadi tangan kanan bupati memenggal dan mencincangnya. Potongan-potongan daging sang kekasih itu konon dipunguti Apun Gencay.

Versi mana yang benar? Entahlah. Yang jelas perlawanan petani pada bupati dan VOC meluas. Mereka merusak kebun-kebun kopi dan kabur ke daerah lain. Apakah VOC melunak? Tidak. VOC, juga pemerintah kolonial Hindia Belanda, justru kian keras. Aturan baru diterapkan. Pengawasan diperketat.

Di zaman Dandels, dan gubernur jenderal berikutnya, bahkan saat cultuur stelsel diterapkan di seluruh Jawa dan Sumatera, pemerintah Hindia Belanda kian represif. Belanda pun menyedot kekayaan bumi nusantara demi menguasai pasar kopi dunia dan menyelamatkan ekonomi Belanda selama lebih dari seabad. Belanda hanya kalah dari penyakit karat daun yang menghabisi sebagian besar kebun kopi Arabica mereka di Jawa dan Sumatera pada pertengahan abad 19.

Cerita kopi Priangan itu menunjukkan bahwa komoditas ini begitu menggiurkan, bisa menyelamatkan krisis ekonomi pemerintah kolonial, melahirkan para raja kecil di banyak daerah, memberi inspirasi bagi lahirnya proyek tanam paksa yang menindas rakyat, hingga menciptakan pemberontakan berdarah di Cianjur. Dari sepokok pohon, lahir bercabang dan beranting drama yang memberi warna pada sejarah Indonesia.

Salam kopi Nusantara.