Dalam urusan menikmati kopi, juga menyeduh, saya terhitung newbie. Maklum, baru beberapa tahun saya menyukainya. Sebelumnya, selama puluhan tahun, sejak pertama belajar berhitung hingga kini umur hampir habis hitungan, saya “beriman” pada yang lain. Maka untuk mengejar “ketertinggalan”, saya yang punya “iman” baru ini harus banyak belajar.
Tapi namanya (menjelang) manula, mana mungkin si kaki ringkih dan linu-linu ini bisa melompat ke dalam gerbong kereta yang berlari kencang? Begitu banyak anak muda sekarang yang menjadi barista. Gelombang anak muda yang terjun di bisnis kopi kian membesar. Kursus-kursus menjadi barista yang jelas tak murah itu juga banyak diminati. Mereka dengan cepat menguasai berbagai alat manual brew dan rupa-rupa mesin kopi. Praktis, mereka tak terkejar.
Anak-anak kemarin sore yang punya banyak nama itu—entah generasi Y, Z, dan milenial, susah membedakan—jago betul membuat berbagai macam kopi. Dari mulai espresso, latte, cappuccino, americano, ristretto, piccolo hingga belasan nama Italia berakhiran “o” itu. Saya, jangankan menguasai teknik menyeduh yang canggih itu, membedakan antara satu nama “o” dengan “o” yang lain pun tak tahu. Menuliskannya juga masih sering terpeleset.
Jadi, di jagat perkopian, saya adalah barista culun–itu juga kalau layak disebut barista . Buktinya, sudah lebih dari enam bulan ini saya masih tak becus membuat latte. Betapa susah ternyata, misalnya, mengocok susu (milk frothing) agar mengeluarkan micro foam yang tepat untuk latte. Susu bikinan saya, yang semula saya pikir berhasil (pakai teriak “gotcha!” segala), ternyata masih seperti busa rinso—begitu teman memberi istilah. Kacau.
Untuk urusan kocok-mengocok susu ini saya sampai mengundang beberapa teman yang sudah jago untuk mengajari saya di rumah. Hasilnya? Tetap saja dodol. Pernah satu kali saya hampir seharian mengulik si bedebah ini. Ternyata ketahuan belakangan bahwa saya salah memilih jenis susu. Saya membeli susu non fat yang saya suka, padahal untuk membuat kopi latte justru harus menggunakan susu dengan kandungan lemak.
Itu baru urusan frothing. Belum teknik membuat gambar mawar, bebek, panda dan macam-macam gambar lain di atas kopi (latte-art) yang jelas tak mudah. Beberapa teman menyarankan agar saya mengambil kursus latte-art supaya cepat menguasai teknik ini. Saran itu, sementara, saya tolak. Saya masih percaya pada kehebatan Universitas Unyu (Universitas YouTube) –begitu pendiri #ngopidikantor menyebut dan berguru. Saya tinggal berdoa meminta tambahan umur untuk bisa menguasai teknik ini.
Kerumitan dan kecakapan yang perlu latihan tak sebentar itu yang sama sekali tak saya duga sebagai pendatang baru. Saya yang diajak mengikuti camping #ngopidikebun di Pengalengan, Jawa Barat, semula terheran-heran bagaimana kegiatan menyeduh kopi yang sebenarnya simpel itu dibuat menjadi begitu rumit. Tiba-tiba tak hanya ada cangkir, bubuk kopi, dan air panas di atas meja, tapi juga alat saring (pour over), teko leher angsa, server, grinder, filter, timer, termometer dan timbangan!
Saya yang sudah bertahun-tahun membebaskan diri dari alat-alat laboratorium yang mengepung saya saat kuliah seketika “keluar tanduk”. Apa-apaan ini? Masak saya harus kembali bertemu cawan petri, gelas-gelas lab, pipa, kabel, bola gravitasi, timer dan timbangan? Lebih dari tujuh tahun saya harus bergulat mulai dari alat-alat mekanika sederhana hingga eksperimen rumit “menangkap kucing” Schrodinger di fisika kuantum. Saat saya mencoba menulis pendahuluan skripsi tentang hal-hal yang lebih folosofis dari temuan gravitasi Isaac Newton, saya justru diminta dosen pembimbing melengkapi data-data eksperimen dengan cara kembali ke lab! Ini fisika, bukan filsafat atau sastra, Bung! Saya pun takluk.
Nah, di perkebunan kopi dengan suhu dingin dalam suasana camping akhir pekan, tiba-tiba ada panorama “laboratorium” tersebut. Ini kopi, bukan fisika Bung! Maka, dengan gaya seperti para pencaci Ahok, saya pun berkomentar sinis pada setiap aktivitas menyeduh yang dilakukan dengan penuh presisi itu. Dari mulai menyebut para penyeduh itu tak lebih dari agen alat-alat kopi di Glodok hingga ucapan-ucapan absurd yang menyebut Yahudi, yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kopi. Betul-betul aneh dan tak lucu.
Tapi secangkir kopi yang disuguhkan ke saya setelah ritual menyeduh itu sudah cukup meluluhkan komentar miring itu. Saya mendapati kopi yang sangat enak, bukan kopi gampangan yang dibuat cukup dengan menggunting dan menubrukkannya dengan air panas. Ini kopi, yang untuk pertama kali, saya menemukan rasa buah-buahan di dalamnya dan asam yang menyegarkan. Bukan sekadar rasa pahit. Tak seperti kopi sachet dengan hanya ada rasa pahit yang nyetak di langit-langit mulut saya.
Dari kopi yang disuguhkan itu, dari satu cangkir ke cangkir lain yang diseduh dengan alat yang berbeda-beda itu, saya menemukan pengalaman rasa dan aroma yang berbeda-beda. Begitu menakjubkan dan mengasikkan bertualang ke kedalaman rasa yang disuguhkan para petani dari kebun-kebun kopi itu. Dan ternyata bejibun “alat-alat lab” yang meneror itu punya peran yang tak sedikit dalam membantu mengeluarkan kekayaan terpendam di biji-biji kopi.
Dengan pengalaman itu, apakah saya masih nyinyir menyebut berbagai alat-alat seduh itu hanya teknik untuk memperlihatkan para penyeduh tampak modern dan keren? Saya kembali takluk. Sebagai newbie, saya sekarang justru ingin bertualang lebih jauh ke keindahan daerah dan negeri-negeri penghasil kopi, mengunjungi laboratorium-laboratorium inovasi kopi, dan menyelami ikhtiar-ikhtiar para petani kopi yang telah menyuguhkan sesesap rasa yang telah memanjakan lidah dan jiwa kita.
Recent Comments